April 22, 2008

Entry Level Tak Berarti Minim Fitur



Empat ponsel GSM terbaru diperkenalkan Nokia dalam acara Progressing Together yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, lima hari lalu. Penulis menghadiri acara tersebut dan sempat mencoba ponsel-ponsel baru yang seluruhnya bakal beredar di Indonesia itu. Apa saja?

Nokia 1680 Classic

Ponsel berkamera murah meriah. Itulah kalimat singkat untuk menggambarkan spesifikasi dan fitur 1680 Classic. Ponsel berdimensi fisik 108 x 46 x 15 mm dan berat 73,7 gram itu direncanakan beredar pada kuartal kedua 2008. Kuartal kedua dimulai bulan ini dan berakhir pada Juni. Seharusnya, paling lambat dua bulan lagi kita menjumpainya di gerai-gerai ponsel di Indonesia.

Harga jualnya direncanakan USD 80. Itu belum termasuk pajak dan subsidi. Anggaplah nilai pajak setelah dikurangi dengan subsidi setara dengan Rp 0, sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 9.250. Maka, 1680 Classic kelak bisa diperoleh dengan harga Rp 740 ribu.

Layar TFT 128 x 160 piksel mampu menampilkan hingga 64 ribu warna. Fitur utamanya berupa kamera VGA, perekam video, dan perekam suara. Ada pula GPRS, MMS, e-mail, handsfree speaker, dan nada dering MP3. Buku teleponnya mampu menampung sampai 1.000 nama.

Nokia 7070

Bodi luar ponsel clamshell, folder, alias lipatan ini penuh garis-garis geometris. Ada yang menyebutnya seperti sisik ular, potongan berlian, maupun kulit nanas. Apa pun istilah yang Anda pilih, 7070 memang didesain sedemikian rupa agar terlihat stylish.

Ponsel dengan bodi berukuran 87,5 x 44 x 15,8 mm dan bobot 78 gram itu dibekali layar TFT 65 ribu warna beresolusi 128 x160 piksel. Nada dering MP3, GPRS, e-mail, buku telepon 1.000 nama, perekam suara, dan handsfree speaker merupakan fitur lain 7070.

Rencananya, 7070 beredar pada kuartal ketiga 2008. Ponsel bermemori internal hingga 11 MB tersebut kelak dijual di kisaran harga yang sama dengan 1680 Classic. Yakni, sekitar Rp 740 ribu.

Nokia 2680 Slide

Inilah ponsel entry level Nokia pertama yang hadir dalam bentuk sliding alias ponsel geser. Pengguna ponsel ini tidak hanya bisa merekam siaran radio FM. Namun, juga bisa merekam siaran radio yang sedang didengarkan.

Nada dering MP3, kamera VGA, perekam video, bluetooth, e-mail, GPRS, dan MMS merupakan fitur lain yang bisa ditemukan di 2680 Slide. Layarnya memakai LCD TFT 128 x 160 piksel yang sanggup menyajikan hingga 65 ribu warna. Buku teleponnya mampu menampung sampai 1.000 nama. Data kontak, kalender, dan foto di ponsel ini dapat disinkronkan dengan komputer.

Mengingat fitur ponsel tersebut lebih lengkap daripada 1680 Classic dan 7070, wajar Nokia membanderol 2680 Slide lebih tinggi. Rencananya, 2680 Slide beredar pada kuartal ketiga 2008. Harganya mencapai USD 120 atau sekitar Rp 1,11 juta.

Nokia 5000

Tipenya begitu mudah diingat dan dibaca. Lima ribu. Di antara ponsel-ponsel lain yang diperkenalkan di Hanoi, minggu lalu, spesifikasi 5000 paling tinggi. Harga jualnya juga paling mahal. Namun, masih relatif terjangkau.

Kamera 1,3 megapiksel, radio FM stereo plus fungsi perekam, pemutar musik, bluetooth, nada dering MP3 dan AAC, GPRS, dan MMS merupakan sebagian fitur ponsel candy bar yang tipis ini. Dimensi fisiknya 106 x 46 x 11,1 mm dan berat 74 gram.

Bila layar tiga ponsel lain yang diperkenalkan beresolusi 128 x 160 piksel, layar 5000 beresolusi lebih tinggi. Yaitu, 320 x 240 piksel. Ukuran layarnya dua inci dan mampu menampilkan sampai 65 ribu warna.

Kapan beredar? 5000 dijadwalkan mulai tersedia di pasar pada kuartal kedua tahun ini. Berarti, ia sudah berada di ambang pintu. Harga jualnya USD 140. Kalau dikonversikan ke rupiah berarti Rp 1,295 juta. Mudahnya, bulatkan saja menjadi Rp 1,3 juta. (Jawa Pos)
Tag:

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

April 21, 2008

Chip Mahal, CDMA Sulit Kejar GSM

Lambatnya perkembangan jumlah pengguna CDMA ternyata disebabkan oleh mahalnya chip perangkat teknologi tersebut. Bahkan hanya terdapat satu vendor yang memproduksinya.

"Vendor tersebut adalah Qualcomm dan mereka membandrol satu unit chip CDMA itu seharga USD30 hingga USD40. Hal inilah yang kemudian membuat vendor merasa berat untuk menjual handset CDMA karena otomatis harganya akan mahal," ujar pengamat telekomunikasi Mochammad S Hendrowijono saat berbincang di sela Telkomsel Drive Test menuju Bogor, Sabtu (19/4/2008).

Menurut Hendro, lisensi chip CDMA selama ini dimonopoli oleh Qualcomm karena memang mereka yang menemukan teknologinya. Hal ini secara tidak langsung cukup berperan pada penghambatan perkembangan CDMA. Berbeda dengan GSM. Meskipun teknologi GSM tergolong mahal namun handset pendukung teknologi ini cukup murah. Sedangkan CDMA, meski teknologinya tidak membutuhkan investasi mahal namun handset pendukung cukup mahal. Padahal peningkatan penetrasi sebuah teknologi telekomunikasi sangat bergantung pada affordabilitas perangkat pendukungnya oleh masyarakat.

"GSM dan CDMA itu ibaratnya open source dan proprietary. Yang satu bisa didapatkan dengan mudah dan yang lainnya sangat sulit. Dengan budget handset CDMA biasa, kita bisa mendapatkan handset GSM yang canggih," jelas Hendro.

Dengan kendala seperti ini Hendro sendiri tidak begitu yakin jika teknologi CDMA mampu mengejar ketertinggalannya dari GSM. Bahkan di Indonesia sekalipun. Kini perbandingan pelanggan GSM dan CDMA cukup jauh. Dari sekira 2 miliar pelanggan GSM di dunia, pelanggan CDMA hanya memiliki kontribusi kurang dari 20 persennya saja. (Okezone)
Tag:

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment