December 6, 2007
LTE Siap Menggantikan Teknologi 3G
Oleh Lahyanto Nadie
Teknologi seluler terus berkembang menelurkan produk inovatif. Salah satunya adalah LTE (long term evolution) yang dapat melakukan download dan upload dari telepon seluler dengan kecepatan ratusan megabite per second.
"Ini merupakan evolusi lanjutan 3G dan disebut-sebut sebagai 4G," kata Dirk Wolter, VP Strategy and Business Development South Asia Alcatel-Lucent Asia Pacific.
LTE yang menjadi salah satu topik pembahasan dinilai akan menjadi produk unggulan masa depan.
LTE disiapkan untuk format jaringan seluler yang kekuatannya jauh melebihi dari pada yang sudah ada sekarang baik 3G, HSDPA (high speed downlink packet access) maupun HSUPA (high speed uplink packet access), karena mampu mengalirkan data hingga 100 Mbps untuk downlink dan 50 Mbps untuk uplink.
Dengan kecepatan fantastis itu, beragam aplikasi bisa dinikmati lebih cepat dan real-time misalnya untuk game online.
"Begitu pun untuk aplikasi lainnya seperti video on demand," tegas Wolter.
Kehebatan jaringan LTE sempat dipamerkan dengan menjalankan game online dengan melibatkan banyak user. Respons dan tampilan gambarnya sangat smooth tanpa ada delay sama sekali.
Dalam perbincangan dengan Bisnis, Abdul Razaque Memon, Director Solution Marketing Application & Multi-core Division Alcatel-Lucent Asia Pacific, menjelaskan LTE sebenarnya sudah dipersiapkan oleh komisi standardisasi 3GPP (third generation partnerhip project) dan menjadi bagian dari spesifikasi 3GPP release 8.
Sejak dua tahun lalu, komisi ini bekerja dan menghasilkan LTE yang mengacu kepada EUTRA (evolved UMT Terestrial Radio Access). Secara teknis, LTE menawarkan perbaikan latency time untuk mengurangi waktu akses ke layanan dan respons jaringan.
"Dari sisi frekuensi, LTE merupakan kelanjutan dari HSPA sehingga tetap memakai frekuensi yang sama dengan UMTS/WCDMA dan membutuhkan bandwidth hingga 20 MHz," ujar Memon.
Komisi 3GPP juga tetap realistis dengan mempertimbangkan aspek komersial. Hampir seluruh operator yang berevolusi ke jaringan HSPA baik HSDPA/HSUPA akan menghabiskan dana investasi yang jauh lebih besar untuk biaya set up dan operasionalnya.
"Itulah sebabnya, berbagai proses seperti migrasi, coexisting, dan cooperation tetap memanfaatkan teknologi yang sudah ada seperti GSM/GPRS dan UMTS," lanjut Memon.
Guna mencapai kecepatan aliran data yang besar, 3GPP menggunakan model arsitektur dan metode transmisi baru untuk LTE.
Revolusi konten
Teknologi LTE tidak menggunakan basis akses WCDMA (wideband CDMA) seperti yang digunakan untuk jaringan 3G di operator GSM. Untuk downlink, LTE menggunakan OFDMA (orthogonal frequency division multiple access). OFDMA saat ini dikenal luas di Teknologi wiMAX dan DVD-T. Sementara itu, untuk uplink LTE mengacu pada teknologi SC-FDMA (single carrier frequency division multiple access) yang dinilai sama bagusnya dengan OFCDMA.
OFDMA menawarkan sistem transmisi data dengan mengefisienkan spektrum yang digunakan.
Mobility World Congress 2007 juga memperlihatkan pesatnya perkembangan pasar iklan melalui handphone yang diyakini akan booming dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama.
Begitu pula dengan perkembangan konten hiburan. Jika Anda melihat orang berkacamata tampak tertegun, tersenyum, tertawa hingga tertawa terbahak-bahak atau justru dengan raut wajah bersedih jangan salah menduga bahwa dia sakit ingatan.
Melalui kacamatanya boleh jadi dia tengah menikmati produk terbaru dari teknologi seluler berupa video atau televisi.
"Anda lihat sendiri kan? Betapa perkembangan produk teknologi seluler akan terus berkembang," kata Memon.
Yang jelas, aneka konten itu akan semakin nyaman dinikmati melalui jaringan LTE. Lalu bagaimana peluang pengembangan LTE di Indonesia? Di mata vendor, Indonesia merupakan pasar yang masih terbuka.
Alcatel, lanjut Memon, terus melakukan penetrasi pasar di Indonesia untuk meningkatkan broadband. Sebab, berdasarkan data November 2007, Indonesia masih tetap jauh tertinggal dalam penggunaan teknologi. Untuk Internet saja, katanya, baru 0,2% dari jumlah penduduk yang menggunakannya.
"Ke depan pasti akan lebih banyak orang yang menggunakan Internet dan itu pasar yang besar dalam industri telekomunikasi," katanya.
Sebagai perbandingan, penduduk India telah 'melek' Internet mencapai 2% dan China 10,5% serta Malaysia 11,5%. Saat ini negara yang penduduknya paling banyak menggunakan Internet adalah Korea yang mencapai 77,9%, disusul Hong Kong 76,3%, Singapura 74,15% dan Taiwan 62,6%.
Sementara itu, Australia telah mencapai 57,3%. "Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kenaikan 1% saja akan meningkatkan pengguna Internet sangat signifikan dan itu pasar yang besar," kata Memon.
Begitu pun untuk produk lainnya pengguna 3G, Vendor jaringan dan telekomunikasi Alcatel-Lucent telah siap menggelar teknologi wireless masa depan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) di seluruh Indonesia. (lahyanto.nadie@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis Indonesia Online