April 15, 2008

Skema Tarif Dasar XL Diubah

Setelah ditetapkan penurunan tarif interkoneksi, PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akhirnya melakukan perubahan terhadap skema tarif dasar layanan selulernya. Sebelumnya, baru Telkomsel yang mengumumkan perubahan tarifnya. Perubahan ini berlaku untuk Bebas, Xplor, dan Jempol, namun tidak semua tarif turun.

"Kami sangat mendukung kebijakan pemerintah yang telah menurunkan tarif interkoneksi dengan tujuan agar tarif telekomunikasi bisa mengikutinya," kata Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi dalam rilsi pers. Seperti halnya Telkomsel, dalam tarif dasar yang baru, XL juga menerapkan penyederhanaan cara penghitungan tarif dengan menerapkan dua macam tarif untuk setiap jenis produknya, yaitu tarif ke sesama XL (on-net) dan tarif ke operator lain (off-net) tanpa mengenal jarak (tanpa zona lokal, tetangga, seberang).

Dalam perubahan skema tarif dasar, tarif percakapan Jempol tidak mengalami perubahan. Untuk tarif Bebas mengalami penurunan, sedangkan Xplor mengalami perubahan cara perhitungan dari hitungan detik menjadi per 30 detik.

Perubahan ini juga dimanfaatkan XL untuk menurunkan tarif dasar SMS. Tarif SMS ke semua operator baik dari bebas, Jempol, maupun Xplor ditetapkan Rp150 per SMS. Perubahan ini akan berlaku mulai 19 April 2008.

Meski tarif dasar turun, pengguna XL mungkin belum akan merasakan perubahan biaya percakapan. Sebab, sampai sekarang XL masih memberlakukan tarif promosi di semua layanannya yang lebih rendah dari tarif dasar. 

Skema tarif percakapan baru adalah sebagai berikut:
1. Untuk prabayar Bebas, tarif ke sesama XL Rp 375/30 detik. Tarif ke operator lain dan PSTN tarif menjadi Rp750/30 detik.

2. Untuk prabayar Jempol, tarif ke sesama XL Rp 500/30 detik. Tarif ke operator lain dan PSTN Rp750/30 detik.

3. Untuk pasca bayar Xplor, tarif ke sesama XL Rp375/30 detik. Tarif ke operator lain dan PSTN Rp750/30 detik.
(Kompas)

Tags: ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment
Custom Search

November 15, 2007

Iklan Ponsel Tarif Murah Menyesatkan

Medan (ANTARA News) - Iklan telepon selular bertarif murah yang ditampilkan sejumlah media massa cetak maupun elektronik saat ini, dinilai cenderung menyesatkan masyarakat dan merugikan konsumen, kata salah satu pimpinan lembaga perlindungan konsumen.

"Agar kondisi itu tidak berlanjut Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), kami minta segera mengambil langkah untuk menertibkan model iklan yang cenderung menyesatkan seperti itu," kata Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen, Farid Wajdi, di Medan, Rabu.

Menurut dia, masing-masing operator telepon selular berkeinginan menjadikan perusahaannya terkemuka, dengan menjaring sebanyak-banyaknya pelanggan melalui beragam strategi dan trik.

Farid menilai, semua operator telepon selular itu, mengklaim bertarif termurah, namun strategi merebut pangsa pasar seperti itu mengakibatkan persaingan pemasaran yang kurang sehat dan cenderung menipu konsumen.

Iklan seperti itu, menurut dia, kurang mendidik dan mengabaikan informasi yang bersifat lebih mendidik dan tidak membohongi publik.

Farid mencontohkan, promosi telepon selular CDMA Esia dengan tarif Rp1.000 per jam, Telkom-Flexi dengan tarif Rp49 per menit, dan Fren dengan tarif Rp7 per menit, serta sejumlah operator telepon genggam (HP) GSM lain yang menawarkan penggunaan telepon gratis sesama operator.

"Tak salah bila konsumen menganggap tarif tersebut murah dan mencoba membeli produk itu, padahal sesungguhnya pada bagian lain ada syarat yang berlaku untuk bisa menggunakan tarif itu," kata dia pula.

Kenyataannya, syarat itu tidak turut serta disampaikan pada promosi iklan yang ditampilkan di media massa.

Dia mengingatkan, para operator telepon selular dapat bersikap proaktif dan kreatif, dengan mengedepankan nilai edukasi kepada konsumen serta mengedepankan kebenaran, jelas dan jujur, tidak hanya sekedar meraup untung.

Sebaliknya konsumen juga diingatkan, harus lebih cerdas dan selektif dalam meneliti setiap iklan yang menawarkan harga murah.

"Jangan sampai semuanya ditelan bulat-bulat," ujar Farid pula.
(*)

Sumber : ANTARA News

Tags: , , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment
Custom Search

February 26, 2008

IM3 Luncurkan Tarif Rp 0,01 per Detik

Dikenal sebagai operator sms yang memiliki tarif paling murah, IM3 kembali memposisikan dirinya sebagai operator seluler yang memiliki tarif percakapan paling kompetitif ke seluruh pengguna selular di Indonesia

Melalui program panggilan telefon (voice call), Tarif Murah Bangets, IM3 meluncurkan program tarif Rp 0,01 per detik.

"Dahulu IM3 kami fokuskan untuk para pengguna seluler yang lebih suka ber-sms-an. Ternyata ada juga pengguna IM3 yang suka menelepon. Maka dari itu, selain SMS yang murah, kami juga memberikan tarif menelepon murah untuk para pengguna IM3," ujar Direktur Jabotabek dan Corporate Sales Indosat Fadzri Sentosa, di sela peluncuran IM3 0,01 per detik di Kamasutra Cafe, Kamis, 21/2-2008.

Sayangnya, tarif promosi ini hanya berlaku hingga akhir April 2008 saja. Bahkan penggunaannya pun harus melewati beberapa ketentuan. Misalnya saja tarif promosi 0,01 per detik ini baru bisa dinikmati setelah penggunaan di detik ke 91. Ketentuan tersebut berlaku untuk percakapan ke seluruh operator.

Menurut Fadzri, dengan diluncurkannya tarif IM3 Rp 0,01 per detik ini juga sekaligus menjawab permintaan dan keinginan kebutuhan pelanggan IM3 yang tidak hanya menginginkan tarif murah pada SMS akan tetapi juga tarif murah pada panggilan.

Program tarif IM3 Rp0,01 per detik berlaku setelah 90 detik atau 1,5 menit percakapan, dimana sebelum 90 detik pertama tarif yang berlaku adalah Rp 15 per detik untuk panggilan ke sesama pengguna Indosat (tujuan Matrix, Mentari, IM3 dan StarOne) dan Rp 25 per detik untuk panggilan ke operator lain (off-net).

Khusus untuk ke sesama nomor Indosat tarif Rp0,01 berlaku sejak detik ke 91 hingga percakapan berakhir, sedangkan untuk panggilan ke operator lain diberlakukan tarif yang berulang tiap 90 detik yaitu 90 detik pertama berlaku tarif Rp25 per detik, kemudian detik ke 91 sampai detik ke 180 (3 menit) berlaku tarif Rp0,01 per detik, dan detik ke 181 sampai detik ke 270 (4,5 menit) berlaku tarif Rp25 per detik dan seterusnya.

"Tarif untuk ke operator lain tersebut berulang karena Indosat memperhitungkan tarif interkoneksi," kata Fadzri.

Dengan diberlakukannya tarif promo IM3 Rp0,01 per detik yang berlaku sampai 30 April 2008 ini, Indosat siap mengantisipasi lonjakan trafik panggilan pada BTS-BTS Indosat.

"Kami telah mengantisipasi dengan mengalokasikan capex 1,2 Miliar dolar Amerika untuk penambakan kapasitas jangkauan dan penambahan BTS dan transmisinya tahun ini," tambah Fadzri.

Meskipun diluncurkan program tarif promo IM3 Rp0,01 per detik, dia menegaskan semua program IM3 seperti Raja SMS, Super Voucher 200 SMS, Bonus SMS Isi Ulang, SMS 88 dan yang terbaru IM3 Ce eS-an masih tetap berlaku sampai saat ini. (lily)

Tags: ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment
Custom Search

September 27, 2007

Iklan Tarif Telepon Sering Menjebak

JAKARTA: Regulator akan memberikan peringatan kepada operator yang mempromosikan tarifnya kepada masyarakat tidak secara informatif, apalagi sampai menjebak pelanggan telekomunikasi.

Hal tersebut dikemukakan menyusul maraknya iklan sejumlah operator mengenai tarif murah yang cenderung tidak transparan dan dikhawatirkan menipu masyarakat.

"UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen secara jelas menyatakan bahwa iklan harus informatif dan memuat seluruh aspek syarat dan ketentuan sehingga tidak malah terkesan menjebak," tandasnya kepada Bisnis, di sela-sela seminar mengenai jaringan generasi lanjutan, kemarin.

PT Excelcomindo Pratama Tbk mengawali promosi tarif murah dengan Rp1 per detik hingga menit kedua, kemudian PT Mobile-8 Telecom Tbk dengan Rp38 per menit, PT Telkom Tbk dengan Rp49 per menit, PT Bakrie Telecom dengan Rp50 per menit, serta PT Indosat Tbk dengan Rp50 per 30 detik.

Sebagian besar iklan tarif operator tersebut tidak mencantumkan durasi waktu pemberlakuan tarif dan cakupan wilayah yang dimaksud sehingga cenderung tidak transparan.

Direktur Regional Sales PT Indosat Tbk Syakieb A. Sungkar mengklaim pihaknya telah menerapkan iklan tarif secara transparan dan tidak menjebak karena mulai dari menit pertama sampai 15 tarif berlaku sama, yaitu Rp100 per menit.

"Kami pada dasarnya tidak terlalu mempermainkan tarif dalam melakukan kegiatan promosi, karena yang kami andalkan adalah kualitas jaringan meski tetap dengan harga yang terjangkau," ujarnya kepada wartawan, kemarin.

Indosat meminta regulator untuk menertibkan persoalan promosi tarif operator telekomunikasi terutama yang tidak transparan dan cenderung menjebak pelanggan.

Indosat sendiri mengklaim tarifnya lebih murah dari kompetitor hingga 93% mengingat kebanyakan operator sering menjual produk tertentu dengan keterangan yang tidak lengkap karena biasanya di balik promosi tarif murah ternyata di dalamnya banyak berisi jebakan.

Di bawah 2 menit

Syakieb mengungkapkan dari penelitian internal Indosat, sekitar 97% percakapan telepon memiliki durasi waktu di bawah dua menit sehingga bila tarif murah baru diberlakukan setelah menit tersebut akan percuma saja.

"Indosat akan mengedukasi kepada masyarakat mengenai promosi tarif yang dilancarkan oleh operator telekomunikasi. Indosat tidak merasa terancama terhadap adanya berbagai tarif promosi yang cenderung banting harga dari operator karena pihaknya tidak terlalu mempermainkan tarif dalam mendulang pelanggan, melainkan mengandalkan kualitas jaringan," tuturnya.

Secara terpisah, Direktur Layanan Korporasi Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengatakan pihaknya mengandalkan tarif Rp38 per menit dalam menjaring pelanggan baru.

"Tarif kami sangat transparan dan sama dalam setiap menitnya sehingga tidak menjebak," ujarnya. (arif.pitoyo@bisnis.co.id)

Oleh : Arif Pitoyo

Sumber : Bisnis Indonesia Online

 

 

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment
Custom Search

October 1, 2007

Smart Ingin Jadi Operator yang Transparan Soal Tarif

Jakarta (ANTARA News) - PT Smart Telecom sebagai operator ponsel berbasis CDMA (Code Division Multiple Acces) dari Smart ingin menjadi operator yang transparan soal tarif.

"Smart Telecom ingin menggunakan diferensiasi sebagai operator yang transparan dalam perhitungan tarif, dan melakukan promosi yang lebih mendekatnan diri dengan target pasar," kata Deputy Presiden Direktur PT Smart Telecom, Djoko Tata Ibrahim dalam siaran persnya yang diterima ANTARA News di Jakarta, Senin.

Djoko mengatakan untuk telepon ke sesama Smart cuma Rp45/ menit, dan tarif telepon ke operator lain sebanyak Rp550 per 30 detik untuk lokal serta Rp660 per 30 detik untuk non lokal.

Sedangkan untuk SMS, Djoko menjelaskan SMS sesama Smart Rp25 per SMS, dan SMS ke operator lain Rp275 per SMS, serta Internet Rp2,2 per kb.

Djoko menjelaskan tarif Smart ini hemat dan yang paling penting adalah tanpa syarat apapun dengan pembagian tarif yang sederhana dan tidak tergantung jarak maupun waktu.

Dia menjelaskan keuntungan lainnya menggunakan Smart adalah tarif hemat sejak menit pertama dan bebas roaming.

Djoko mengatakan Smart yang menggunakan teknologi CDMA 2000 1x dan EVDO-Rev A di frekuensi 1900 MHz mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan produk dari operator ponsel CDMA lainnya.

Untuk jangkauan, Djoko menyatakan sampai akhir tahun 2007, 80 persen pulau Jawa akan segera terjangkau oleh jaringan Smart.

"Mulai tahun 2008 kita bisa melayani di Sumatera kemudian mengikuti Kalimatan dan Sulawesi, dan berlanjut untuk pembangunan BTS (Base Transceiver Station) di Papua dan Maluku," jelas Djoko.

Deputi Presdir PT Smart Telecom itu mengatakan pihaknya menargetkan pembangunan jaringan sebanyak 1500 BTS dengan belanja modal mencapai Rp3 Triliun yang merupakan pinjaman dari sebuah bank internasional dari Cina.

"Modal Rp3 Triliun itu sudah mencakup pembangunan BTS di Jawa, Sumatera, Kalimatan dan Sulawesi," kata Djoko.

Dia mengatakan, dengan BTS sebanyak itu, Smart menargetkan untuk mendapatkan pelanggan satu juta orang sampai akhir tahun ini.(*)

Sumber : AntaraNews

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment
Custom Search

January 19, 2008

Tarif Turun, Trafik Naik, Operator Tetap Untung

JAKARTA - Tarif telekomunikasi dipastikan akan turun, seiring dengan formula tarif baru yang dikeluarkan regulator pada akhir Januari ini. Operator pun dipastikan akan tetap mereguk untung dari trafik yang akan meningkat.

"Selalu akan terjadi elastisitas karena pasar di Indonesia ini adalah pasar prepaid yang tergantung pada spending tiap bulan. Mau harga turun atau naik, mereka tetap pakai," ujar Direktur Utama Indosat Jhonny Swandy Sjam, saat ditemui disela acara penandatanganan peningkatan kerja sama Mobile Banking dengan Bank Syariah Mandiri, Jumat (18/1/2008).

Menurutnya, spending yang dikeluarkan oleh pengguna telekomunikasi akan tetap, hanya trafik yang akan meningkat. Dari situ operator tetap mendapatkan keuntungan dari peningkatan trafik.

Ditemui disela acara konferensi pers Telkom, di Gedung Telkom Jalan Gatot Soebroto, hal yang sama pun diungkapkan Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja. Menurunya revenue akan tetap tumbuh walaupun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah meyakinkan bahwa operator sudah memprediksi pada tahun 2008 ini tarif telekomunikasi cenderung turun namun kecenderungan penurunan ini terjadi karena adanya kompetisi yang semakin ketat. Walaupun menurutnya harus ada keseimbangan yang terjadi sehingga operator masih bisa mendapatkan insentif untuk investasi.

Namun lain halnya dengan tarif telekomunikasi lokal yang menurutnya tidak akan turun lagi dikarenakan saat ini tarif komunikasi lokal sudah terbilang sangat murah berkat subsidi dari SLJJ sebesar 20 hingga 30 persen.

Lalu bagaimana dengan tarif SMS? Rinaldi mengungkapkan bahwa tarif SMS di Indonesia sudah cukup murah dibanding negara lain dan perhitungan tarif dasar SMS sebesar Rp76 hanya merupakan biaya perhitungan network element dan belum memasukkan biaya lainnya.

"Tarif SMS di Indonesia masih terbilang murah dibanding negara-negara lain. Filipina saja memberlakukan tarif sms, jika dikonversi ke rupiah, sekira Rp240. Maxis pun hanya sekira Rp280," ujar Rinaldi.

Kamis (17/1/2008) siang, Menkominfo mengadakan pertemuan kedua dengan para operator dalam membahas penurunan tarif ini di Gedung Postel. Menkominfo memastikan formula perhitungan tarif akan keluar pada akhir Januari ini dengan penurunan tarif sekira 10 hingga 30 persen. Hanya saja implementasi penurunan akan mulai digalakkan pada April dengan harapan penurunan ini pun akan turut menurunkan tarif retail seluler lintas operator.

Implementasi penurunan tarif akan dilakukan dengan soft policy, yang artinya pemerintah akan menunggu kesadaran operator untuk menerapkannya. Jika disinyalir operator tidak memberlakukan penurunan tarif maka pemerintah akan langsung menerapkan hard policy. (mbs)

Sumber : Okezone.com

10 Muharram 1429 H

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment
Custom Search

March 1, 2008

Tarif XL, Selanjutnya Gratis

JAKARTA - Seakan tidak ingin melepas konsistensi sebagai operator dengan tarif termurah, XL kembali memberlakukan tarif gratis. Namun kali ini mereka menyebutnya dengan 0,0000……1/ sampe puas.

Entah kapan perang tarif promosi ini akan berakhir. Yang jelas, setelah Rp25/detik, Rp10/detik, Rp1/detik, Rp0,5/detik, Rp0,1/detik, Rp0,01/detik, XL pun melanjutkan mekanisme ini dengan memberlakukan 0.0000…..1/ sampe puas atau setara dengan gratis.

"Konsep ini kami lahirkan sebagai wajah baru yang berbeda dengan konsep sebelumnya. Namun demikian, semua yang kami hadirkan ini sebagai upaya untuk tetap konsisten dalam memposisikan diri kami sebagai operator dengan layanan yang berkualitas dan tarif termurah. Dengan tarif promo baru ini kami berharap agar pelanggan dapat lebih leluasa dan nyaman dalam berkomunikasi bersama XL tanpa menghitung waktu bicara mereka," ujar Direktur Marketing XL Nicanor V. Santiago dalam keterangan resminya, Jumat (29/2/2008).

Sayangnya XL memanfaatkan tiga jenis waktu yang ada untuk mengimplementasikan mekanisme tarif tersebut. Dua jenis jam sibuk dan satu jenis jam tidak sibuk.

Ke lain Operator

Jam Tidak Sibuk

23.00 - 10.59 WIB

1 - 60 detik

Rp 10/detik atau setara dengan Rp 600,-

> 60 det - seterusnya

Gratis (ngobrol sepuasnya)

Jam Sibuk 1

11.00 - 18.59 WIB

1 - 120 detik

Rp 10/detik atau setara dengan Rp 1.200,-

> 120 det - seterusnya

Gratis (ngobrol sepuasnya)

Jam Sibuk 2

19.00 - 22.59 WIB

1 - 180 detik

Rp 10/detik atau setara dengan Rp 1.800,-

> 180 det - seterusnya

Gratis (ngobrol sepuasnya

 

Ke sesama XL


Sepanjang Hari

(24 Jam)

1 - 120 detik

Rp 25/detik

Rp 1.500 untuk telepon 1 menit

Rp 3.000 untuk telepon 10 menit

Rp 30.000 untuk telepon 1 jam

>120 - 600 detik

Gratis (ngobrol sepuasnya)

> 600 det - seterusnya

Rp 10/detik

 

Note: Berlaku di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lombok, sudah termasuk PPN.(srn)

Sumber : Okezone

Tags: ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

December 13, 2007

Perang Tarif Makin Panas

Perang tarif antar operator seluler, makin seru saja. 'Pertempuran' makin seru setelah Telkomsel 'turun gunung' dengan menawarkan tarif Rp 0,5 per detik. Tarif ini, merupakan tarif promosi terendah untuk saat ini. XL, misalnya, menawarkan tarif Rp 1 per detik. Sementara Esia menawarkan tarif Rp 50 per menit atau sekitar Rp 0,83 per detik.

Namun, murah atau mahal amat relatif. Bergantung dari sisi mana melihatnya? Bagi Purwo, tarif Rp 0,5 per detik tergolong murah. Sekarang ini hanya membayar Rp 1.690 untuk menelepon saudaranya di Wonogiri dalam waktu 7 menit 20 detik. "Sebelum bisa habis Rp 5.000,- apalagi nelpon siang hari," kata Purwo usai mencoba layanan baru Telkomsel Simpati Pe De.

Awal pekan ini, Telkomsel merilis kartu perdana baru, Simpati Pe De. Varian baru kartu prabayar Simpati ini, menawarkan tarif flat Rp 0,5 per detik ke sesama pelanggan Telkomsel di seluruh Indonesia. Tarif Rp 0,5 per detik berlaku setelah penggunaan satu menit. Untuk penggunaan hingga satu menit (60 detik), dikutip Rp 25 per detik.

Layanan yang sama bisa dinikmati pelanggan Simpati (biasa). Bila ingin beralih ke Simpati Pe De, cukup melakukan registrasi ke *880#, masuk ke menu perpindahan tarif dan memilih tarif detik. "Tarif Telkomsel senantiasa fleksibel dan transparan," kata Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja, usai peluncuran layanan ini di Jakarta, Senin (10/12). Kiskenda memastikan bahwa tarif Rp 0,5 dihitung setelah detik ke 60.

Pelanggan yang menggunakan menelepon tiga menit dikutip Rp 1.560,- bila menelepon satu jam Rp 3.320,- Tarif ini hanya berlaku untuk komunikasi ke sesama pelanggan Telkomsel (on net). Untuk komunikasi ke PSTN/FWA lokal Rp 15 per detik, SLJJ Rp 35 per detik. Untuk operator lain non PSTN/FWA, lokal Rp 25 per detik dan SLJJ Rp 60 per detik.

Ia menolak anggapan bahwa tarif baru merupakan respon atas putusan KPPU yang menghukum Telkomsel menurunkan tarif sekurang-kurangnya 15 persen. "Simpati Pe De telah disiapkan sekitar tiga bulan lalu," kata Kiskenda. Terhadap putusan KPPU sendiri, Telkomsel tengah menyiapkan banding ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena belum paham dengan tarif yang dimaksud KPPU.

"Kalau berbicara mengenai tarif, varian banyak sekali. Kalau berbicara mengenai produk, kami punya Halo, Simpati dan KartuAs. Bicara soal layanan, ada voice, SMS atau internet, belum lagi kalau kita bicara soal waktu dan durasi. Varian tarif banyak sekali," ujar Kiskenda kemudian. Pada sisi lain, terminologi murah atau mahal pada industri seluler juga bergantung pada berbagai aspek.

Tarif murah jika boleh disebut demikian, dilukiskan Kiskenda sebagai alternatif pilihan untuk pelanggan. Dalam hal ini pelanggan diberikan berbagai alternatif tarif yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pelanggan Simpati Pe De, memang akan menikmati tarif komunikasi murah. Namun demikian, pelanggan Simpati Pe De tidak bisa menikmati aneka layanan Simpati Extra, seperti paket hemat, paket super hemat, talkmania, SMS malam hari termasuk bonus bicara dan SMS.

Langkah Telkomsel, mendapat dukungan sang induk, Telkom Indonesia. "Tarif Rp 0,5 per detik yang ditawarkan Telkomsel sesuai dengan permintaan pasar. Kalau mau kompetisi, tarifnya ya Rp 0,5 per detik," kata Direktur Utama Telkom Indonesia, Rinaldi Firmansyah. Kehadiran Simpati Pe De, tak urung menawarkan tarif paling murah untuk layanan on net GSM. Sebelumnya tarif paling murah diklaim kartu prabayar XL, bebas, yang menawarkan tarif Rp 1 per detik.

Simpati Pe De, menjadikan kompetisi di pasar prabayar seluler–baik GSM maupun CDMA–, makin seru saja. Dalam batas-batas tertentu, ia akan mempengaruhi pula pasar fixed wireless acces (FWA) yang paling gencar menawarkan tarif murah. Ia juga membuka peluang Telkomsel merambah segmen yang paling bawah. Pada industri seluler, setidaknya ada lima kategori pelanggan berdasarkan tingkat penggunaan per bulan (ARPU), yakni sampai dengan Rp 50 ribu per bulan, antara Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu, Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu, Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta dan diatas Rp 1 juta.

Pelanggan dengan ARPU dibawah Rp 50 ribu per bulan menjadi fokus operator baru dan FWA. Karenanya, mereka mengusung ikon tarif murah untuk menarik pelanggan. Mereka kini harus berhadapan dengan Telkomsel yang praktis unggul dibanyak aspek. Kiskenda enggan berkomentar lebih jauh mengenai peluang menguasai pasar yang semakin luas dan pangsa pasar yang semakin besar. "Komitmen kami adalah memberi layanan kepada sebanyak mungkin pelanggan. Penetrasi di Indonesia masih sekitar 36 persen, pasar masih terbuka luas," ujarnya kemudian.

Pasar memang terbuka luas. PT Bakrie Telecom (BTel), misalnya, terus melakukan ekspansi jaringan ke 17 kota baru. Dalam waktu dekat BTel akan beroperasi di Batam, Palembang dan Pekanbaru dengan target pelanggan hingga akhir 2007, 3,7 juta. Langkah yang sama ditempuh Smart. Smart menargetkan perolehan satu juta pelanggan hingga akhir tahun 2008. Selain menawarkan tarif yang cukup bersaing, Smart juga terus membangun dan memperluas jaringannya baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa.

"Smart di Pulau Jawa akan memiliki sekitar 1.200 BTS. Saat ini yang sudah menyala sebanyak 800 BTS. Hingga akhir Desember nanti kami akan mencapai Sukabumi, Bandung. April hingga Mei 2007, akan mencapai Sumatera di Medan dan Pekanbaru. Sulawesi dan Kalimantan diharapkan bisa dicapai pada Juni 2007," papar Deputi CEO Smart Telecom, Djoko Tata Ibrahim.

Ketatnya persaingan antar operator dibenarkan Deputi Presiden Direktur BTel, Erik Meijer. Ia mengatakan belum ada rencana untuk melakukan revisi tarif. "Kami rasa promo-promo yang dijalankan Esia selama ini sudah cukup. BTel belum ada rencana untuk merevisinya, tapi belum tahu nanti kedepannya," kata Erik ditemui di sela-sela peluncurakan program value added terbarunya Sport Esia, Senin (10/12).

Erik mencontohkan Promo Untung pake Esia, dimana pelanggan diberikan kesempatan untuk mendapatkan uang. Pelanggan yang menerima telepon dari operator GSM akan mendapatkan Rp 50/ menit. Esia sendiri memberlakukan tarif lokal on net Rp 3.000/ jam atau Rp 50/ menit dihitung dari menit pertama. Sementara untuk interlokal on net, tarifnya sama namun pelanggan harus menggunakan kode 01010. SMS on net Rp 50, sedangkan off net Rp 250/ SMS.

Tarif off net (antar operator) lokal Rp 800/ menit, antar kota dengan zona dekat (kurang dari 200 Km) Rp 1.545/ menit (peak hour) dan Rp 1.364/ menit (off peak hour). Untuk zona jauh (di atas 200 km), Rp 2.727/ menit (peak hour) dan Rp 1818 / menit (off peak). BTel, lanjutnya, akan meneruskan layanan dan program promo yang telah dijalaninya selama ini yaitu mewujudkan layanan dan perangkat yang paling murah dengan mutu yang lebih baik dan lengkap. Melihat banyaknya operator yang berlomba-lomba menurunkan tarif telepon, BTel mengaku siap menghadapi. "Bagus, kita senang pasar semakin seru. Mudah-mudahan bisa meningkatkan pamor CDMA di Indonesia," katanya.

Namun, ia menghimbau agar masyarakat jeli melihat secara detil tarif yang ditawarkan. Termasuk syarat-syarat perhitungan tarif dari menit ke berapa yang berlaku. Masyarakat, katanya, harus lebih teliti dan waspada. Erik menambahkan, penentuan tarif seharusnya diserahkan kepada masing-masing operator dengan merujuk pada mekanisme pasar yang berlaku. "Itu yang membuat kompetisi menjadi seru.

Tarif itu seharusnya ditentukan dari berapa masyarakat membayar. Kalau terlalu mahal tentunya tidak akan laku, namun jika terlalu murah operator tidak bisa bertahan. Jadi sebaiknya dibebaskan saja, kalau terlalu diatur akan susah, karena ini adalah kompetisi bebas. Tarif boleh diatur kalau kompetisinya tidak bebas," tegas Erik.

Smart menawarkan telepon gratis hingga 15 menit. Pada menit ke 15 panggilan akan terputus, dan dapat dilanjutkan kembali setelahnya dengan waktu yang sama. Promo ini akan berlangsung sampai 31 Maret 2008. "Dengan program Smart Bicara Gratis, pelanggan dapat menikmati layanan komunikasi hebat tanpa dikenakan tarif sepersen pun. Semuanya ini kami lakukan hanya untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan, " ungkap Djoko.

Sementara untuk tarif offnet (ke operator lain), Smart memberlakukan tarif Rp 550/ 30 detik untuk panggilan lokal dan Rp 660/ 30 detik untuk interlokal. Untuk tarif SMS on net berlaku Rp 25/ SMS sedangkan offnet sebesar Rp 275/ SMS. Murah dan mahal, memang kembali kepada pelanggan masing-masing. (tar/mth)

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

January 4, 2008

Perang Tarif Terus Berlanjut

Esia Operator Pemicu

Pulsa mahal adalah masa lalu. Program customer loyalty dengan iming-iming hadiah dan poin reward juga sudah usang. Begitu pula gembar-gembor iklan layanan 3G yang canggih, sudah menghilang dari layar kaca. Sebagai gantinya, para operator itu kini bergiat mengiklankan betapa murahnya produk yang mereka jual. Di tengah semakin ketatnya persaingan di industri seluler, tarif murah dinilai sangat efektif untuk menjaring pelanggan.

Tengok saja tayangan iklan Three (3) di berbagai media massa baru-baru ini. Merek dagang yang diusung operator PT Hutchison CP Telecommunications Indonesia itu menawarkan tarif Rp 1 per menit! Artinya, tarif yang ditawarkan operator asal Hong Kong ini hanya sebesar 1,66 sen per detik. Pelanggan Three juga tak harus berhalo-halo di malam hari. Sebab, program promo ini berlangsung dari pukul 01.00 hingga 13.00 WIB. Sayangnya, program ini masih terbatas pada sesama pelanggan Three.

Perang tarif pulsa murah, sebenarnya, berawal dari PT Bakrie Telecom (BTel). Bahkan, berbeda dengan operator lain yang baru mengenakan tarif murah setelah beberapa tahun beroperasi, Esia langsung menggeber di awal operasionalnya. Lantas, seiring langkah ekspansi yang dilakukannya–setelah mendapat izin menjadi operator berskala nasional pada awal tahun ini, Esia menggenjot jumlah pelanggannya dengan promo berupa hadiah pulsa Rp 50 per menit. Hadiah itu diberikan jika pelanggan Esia ditelepon pengguna seluler GSM.

Selain itu, ada lagi program bundling (memasarkan dua produk yang masih terkait secara bersamaan) yang memasarkan kartu perdana Esia dan ponsel Huawei. Produk ini hanya dijual seharga Rp 199 ribu per unit. Menurut Deputi Presiden Direktur Bakrie Telecom Erik Meijer, saat dipasarkan pertama kali pada September silam, hanya dalam tempo sebulan sekitar 500 ribu unit HP ludes diserap konsumen.

Makanya, dalam waktu singkat, pengguna Esia pun langsung terdongkrak. Target pelanggan tahun ini sebesar 3,6 juta nomor langsung direvisi menjadi 3,7 juta kartu. Jika benar-benar terwujud, maka pangsa pasarnya akan menjadi 4,6% dari total pelanggan seluler 2007 yang ditaksir mencapai 80 juta nomor.

Lantas, bagaimana dengan tahun depan? Erik menegaskan, program bundling dan tarif murah akan tetap dilakukan. Soalnya, sampai tahun depan, Esia sudah mematok target hadir di 34 kota. Ia tak khawatir agresivitas perusahaannya–yang dengan memasang tarif murah–akan dimusuhi oleh operator dominan. "Kami hadir bukan untuk membuat operator lain senang. Tujuan kami adalah membuat konsumen senang,? tegasnya.

Strategi tarif murah juga akan dipakai oleh PT Sinar Mas Telecom (Smart). Sutikno Widjaya, Presiden Direktur PT Smart Telecom, menegaskan, hingga 31 Maret 2008, perusahaannya masih menggratiskan tarif percakapan serta hanya mengenakan tarif SMS antarpelanggan SMART sebesar Rp 25. Selain itu, operator seluler berbasis teknologi CDMA ini masih mengenakan tarif Rp 550 dan Rp 660 per 30 detik untuk percakapan lokal dan non lokal antaroperator. Manajemen SMART tampaknya tak terlalu risau kendati harus menanggung biaya supergede atas promosinya tersebut.

Padahal, operator ini sudah menghabiskan duit sebanyak Rp 3 triliun untuk membangun 600 BTS di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Tahun depan, SMART juga akan membelanjakan duit sebanyak Rp 2 triliun untuk membangun 700 BTS baru. "Sekitar 500 BTS akan difokuskan di Jawa, sisanya akan dipasang di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,? papar Sutikno. Jika semua rencana itu kelar, ia hakulyakin, pengguna Smart akan mencapai lebih dari satu juta pelanggan. (Trust//srn)

TelkomFlexi Tidak Ikutan

Kiat menghadirkan tarif murah, kelihatannya, akan diterapkan pendatang baru lainnya. PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) misalnya. Soalnya, menurut Suwito, Senior Manager Inter Carrier & Regulatory STI, hingga tahun depan, perusahaannya masih mengincar pelanggan di pedesaan, utamanya di Pulau Sumatra. Merek dagang Ceria memang baru berada di wilayah pelosok Lampung, Sumsel, Jambi, Riau, Sumut, Aceh, Bali, Lombok, Jatim, Jateng, dan Jabar.

Untuk pelanggan "ndesonya? itu, operator telepon tetap nirkabel (FWA) berteknologi CDMA ini hanya mengenakan tarif Rp 100 per menit antarsesama pengguna Ceria di satu provinsi. Sementara, tarif lintas operator yang dibanderol perusahaan milik konglomerat Putra Sampoerna itu masih sebesar Rp 350 per menit. "Tarif murah itu kami pasang karena konsumennya masyarakat pedesaan,? ujar Suwito. Ia mengakui, tarif tersebut masih disubsidi oleh STI. "Biarlah, yang penting daerah pelosok bisa lekas maju,? tuturnya.

Saat ini, total pelanggan Ceria memang masih kecil, hanya sekitar 300 ribu nomor. Sekitar 10% terkonsentrasi di sekitar tambak udang Dipasena. Tahun depan, jumlah itu ditargetkan akan bertambah mencapai 750 ribu pelanggan. Sebuah target yang terlalu muluk, jika melihat berbagai kendala teknis di lapangan yang dialami Ceria. Betapa tidak? Untuk membangun BTS misalnya, operator ini "dipalak? sejumlah pemda dengan dalih pungutan APBD. Selain itu, frekuensi 450 MHZ yang digunakan masih belum bersih lantaran bersinggungan dengan frekuensi TNI dan Polri.

Bagaimana sikap operator besar? Untuk mengimbangi agresivitas para pendatang baru itu, tahun depan, PT Telkom akan lebih fokus dalam mengembangkan TelkomFlexi. Pangsa pasar telepon FWA ini, akan digenjot dari 54% pada tahun ini menjadi 60%. Sebagai market leader, Telkom tampaknya tak terlalu risau dengan perang tarif. "Kendati tahun depan persaingan akan semakin ketat, kami tak ingin ikut-ikutan perang tarif. Kami lebih memilih untuk meningkatkan kualitas layanan,? kata Eddy Kurnia, VP Public & Marketing PT Telkom.

Terlepas dari persaingan tarif, tahun depan, industri seluler diprediksi akan tumbuh hingga 20%. Kamilov Sagala, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) melihat, dari target pelanggan sebanyak 90 juta nomor tahun depan, potensi pertumbuhan pelanggan FWA maupun seluler berteknologi CDMA akan jauh lebih pesat ketimbang GSM. "Lisensinya mudah, teknologinya tak kalah dengan GSM dan mereka bisa menawarkan tarif lebih murah,? ujarnya beralasan.

Uniknya, Kamilov menampik anggapan sejumlah operator seluler–terutama operator dominan–yang menyatakan persaingan antaroperator sudah semakin sehat. Alasannya, tarif seluler saat ini sudah kompetitif. "Apanya yang kompetitif. Itu hanya akal-akalan. Masih ada kartel yang mengenakan tarif seragam antaroperator. Saya harap, tahun depan, kami bisa menindaklanjuti masalah ini,? ucapnya ketus. (Trust//srn)

Sumber : Okezone

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment

November 29, 2007

Bila Operator Bingung Soal Tarif


Telkomsel harus menurunkan tarif sekurang-kurangnya 15 persen. Inilah Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), pekan lalu. Menyusul kesimpulan majelis KPPU yang menyatakan bahwa Telkomsel melanggar ketenuan pasal 17 Undang Undang No 5 Tahun 1999.

Putusan KPPU, tak urung memicu berbagai spekulasi. Ada yang menilai bahwa putusan ini sebagai isyarat akan terjadi penurunan tarif (tetap) sekurang-kurangnya 15 persen. Pasalnya, apabila Telkomsel menurunkan tarif sekurang-kurangnya 15 persen, langkah yang sama akan diikuti oleh operator lain

Di sisi lain, Menkominfo Muhamad Nuh menyatakan bahwa awal 2008 akan diberlakukan struktur tarif baru. Ada yang kemudian mengkaitkan pernyataan ini dengan putusan KPPU tadi. Rumor yang berkembang, struktur tarif yang baru akan lebih rendah sekitar 15 persen dibandingkan tarif sebelumnya.

Naik atau turun, barangkali hal yang biasa dalam industri telekomunikasi. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apa yang menjadi dasar dalam penetapan tarif tadi. Bagi pemerintah, yang dimaksud dengan tarif adalah besaran biaya yang harus dibayar pelanggan ketika menggunakan jasa telekomunikasi. Untuk tarif telepon lokal ditetapkan sebesar Rp 250,-. Bila menggunakan layanan seluler, pelanggan juga dibebani biaya interkoneksi. Singkatnya, ada rumusan yang jelas mengenai definisi tarif ini.

Bagaimana dengan KPPU? Ini, barangkali, yang menjadi masalah. Pasalnya KPPU menilai tarif Telkomsel terlampau mahal. Padahal pihak Telkomsel mengklaim bahwa tarif yang diberlakukan merujuk pada regulasi, serta tidak melampaui tarif yang ditetapkan. Sebagaimana diungkapkan Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja tarif yang diberlakukan berada dibawah price cap regulator. Mengapa timbul beda pendapat, wallahualam.

"Apapun putusan KPPU harus kita hormati," ujar Meneg BUMN Sofyan Djalil. Ia melukiskan hal serupa juga terjadi di negara-negara yang lain. "Kita boleh berbeda pendapat, namun harus menghormati hukum," ujar mantan Menkominfo. Berkait dengan putusan KPPU, Sofyan menganjurkan Telkomsel mengajukan banding ke Pengadilan Negeri.

Beda pendapat mengenai tarif, rupanya tak berhenti sampai disini. Kalangan operator seluler, konon 'gerah' juga dengan putusan KPPU tadi. Putusan itu, baik langsung maupun tidak langsung, akan berdampak. Bila Telkomsel menurunkan tarif minimal 15 persen, hal ini tentu saja akan mempengaruhi pasar seluler.

Direktur Marketing Indosat, Guntur Siboro melukiskan tarif ibarat anak tangga. price cap adalah anak tangga paling atas yang notabene besarannya ditetapkan pemerintah. Dalam praktik, tarif yang diberlakukan operatordisebut dengan price atau pricing, ada dibawah price cup tadi. Besarannya cukup bervariasi.

Guntur tidak secara spesifik menyebutkan berapa persen perbedaan antara price cup dengan tarif yang berlaku di Indosat. "Bervariasi, bisa sampai 50 persen," kata Guntur. Ia melukiskan, fokus Indosat adalah pada on net atau sesama pelanggan dan use more get more. "Bisa saja Anda menggunakan SMS lima kali mendapat bonus lima kali, kalau di hitung diskon mencapai 50 persen," katanya.

Pandangan relatif sama dilontarkan Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi. Berbagai program yang dikembangkan XL berhasil menekan tarif dibawah price cap hingga sekitar 30 persen. "Kalau dihitung-hitung, pelanggan menikmati diskon hingga 30 persen," papar Hasnul.

Baik Guntur maupun Hasnul sependapat bahwa berbagai program promosi, seperti diskon, gratis, bonus mampu menekan tarif jauh dibawah price cap. Pada sisi lain, sistem pentarifan juga ikut menekan biaya yang harus dibayar konsumen. Bila sebelumnya operator menghitung usage berdasarkan penggunaan setiap menit, 30 detik, atau 15 detik. Kini diterapkan sistem penggunaan setiap detik. "Perhitungan per detik lebih hemat dibandingkan sistem sebelumnya," kata Hasnul.

Lantas apa dampaknya, jika Telkomsel menurunkan tarif sekurang-kurangnya 15 persen? "Harus ada penjelasan dulu, tarif yang dimaksud KPPU itu apa," kata Guntur. Apa yang dimaksud KPPU tadi price cup atau tarif promosi yang diberlakukan operator. Bila price cup, tarif akan turun sekitar 15 persen. Namun jika yang dimaksud adalah tarif yang diberlakukan (tarif promosi), jatuhnya akan semakin rendah lagi. Dengan tarif 70 persen, bila harus dikurangi lagi 15 persen, tentu saja tinggal 55 persen saja.

Soal tarif memang tak berhenti disini. Dikaitkan dengan kategori layanan, yakni prabayar dan paskabayar varian akan berkembang. Prabayar sendiri ada dua kategori. Apalagi jika ditambah dengan jenis layanan, seperti voice, layanan data atau layanan konten, varian tarif akan semakin panjang. Belum lagi jenis panggilan, lokal, antar pelanggan, lintas pelanggan, interlokal dan internasional, atau berdasarkan wilayah geografis.

Tarif seluler memang unik. Pada rancangan peraturan menkominfo mengenai tarif seluler misalnya, dirumuskan tiga kategori layanan seluler, yakni jasa telefoni dasar, layanan jelajah dan layanan multimedia. Telefoni dasar meliputi lima kategori yakni panggilan seluler on net dan offnet, panggilan lokal, panggilan jarak jauh, panggilan internasional dan panggilan satelit. Jasa telefoni dasar juga meliputi jasa tambahan seperti SMS dan MMS. Di luar tarif tetap (fixed), ada tarif promosi.

Mekanisme pasar menjadi salah satu rujukan dalam menetapkan tarif. Operator mencoba melakukan kustomisasi kepada pelanggan mereka. "Kalau kami memberikan tarif promosi, tentu ada hitung-hitungannya. Kalau tidak memberikan benefit ya dihentikan. Kalau memberi benefit ya diteruskan," ujar Guntur.

XL, misalnya. Tahun ini menerapkan tiga tarif promosi, yakni Rp 25 per detik, Rp 10 per detik dan Rp 1 per detik. Tarif Rp 1 per detik direspons positif.Namun demikian, satu sistem tarif tidak bisa diterapkan secara nasional, karena karakteristik pasar yang memang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Hasnul kemudian mengambil ilustrasi Jakarta dan Sulawesi.

Promo Rp 1 detik mendapat respons bagus di Jakarta, namun kondisi sebaliknya terjadi di Sulawesi. Setelah dikaji, wilayah Sulawesi tidak mungkin diterapkan tarif yang berlaku secara nasional, dengan persyaratan nasional. Oleh karena itu diterapkan tarif khusus untuk wilayah ini. Hasilnya, XL mendapat respons positif.

Oleh karena itulah Hasnul menepis anggapan bahwa terjadi semacam kartel dalam penentuan tarif. "Dari pengamatan saya pribadi, nggak ada hal seperti itu. Sejak saya di Telkomsel, pindah ke Indosat lalu ke XL, operator itu saling intip antara satu dengan yang lain," kata Hasnul kemudian. Ia kemudian menunjuk contoh tarif (promosi) SMS Rp 45,- Angka ini, menurut Hasnul, merupakan angka kedua. "Sebelumnya kita merencanakan harga Rp 49 per SMS. Rupanya ada operator lain sudah menggunakan, terpaksa kita merubah jadi Rp 45," kata Hasnul.

Diakui bahwa di industri seluler Indonesia, tarif sangat bervariasi. "Dari yang tertinggi sampai terendah ada," katanya. Uniknya, operator yang menetapkan harga tinggi juga mendapat respon positif. "Sekalipun tarifnya tinggi, ia tetap diminati karena memberi sesuatu yang lebih. Sebaliknya tarif murah belum tentu diterima. Apa artinya tarif murah kalau nggak bisa digunakan," kata Hasnul.

Oleh karena Guntur menilai yang diperlukan sekarang adalah regulasi mengenai industri. "Belum saatnya diatur regulasi mengenai kompetisi. Kalau regulasi industri sudah jalan, regulasi kompetisi akan diperlukan," ujarnya. Ia sependapat ada aturan mengenai batas atas dan batas bawah, sehingga operator bisa bermain dengan leluasa.

Setidaknya, kata Hasnulm, ada aturan mengenai batas atas. "Kalau batas bawah diatur, nanti harga justru tidak turun, karena operator cenderung bermain disekitar batas atas saja," papar Hasnul. Sebagaimana ayam goreng waralaba, terdapat banyak pilihan dengan rasa yang berbeda dan kemasan yang berbeda pula, penggemarnya juga berbeda-beda. "Namun kalau dilihat harganya relatif sama, kalau ada beda nggak jauh antara satu dengan yang lain," ujar Hasnul.

Memang, dengan penetrasi yang masih pada kisaran 30 persen, terbuka peluang operator menangguk pelanggan sebanyak mungkin tanpa harus berkompetisi secara all out. Regulasi diperlukan, guna mendorong industri tumbuh optimal, bukan sebaliknya. Jika tarif tinggi berurusan dengan KPPU, tarif rendah berhadapan dengan BRTI, sementara ditengah menghilangkan kompetisi karena seragam, lantas dimana posisi ideal tarif seluler? tar

Sumber : Republika Online

Tags: , , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Help

Permalink • Print • Comment